Just Nonsense

23.14


Just Nonsense
Disclaimer by : milda
Rated : 15+
Genre: pshicology
Warning: incest,BL
          Nafas tersengal-sengal mengiringi langkah kakinya yang semakin lama semakin cepat,jantungnya terasa berdegub  abnormal apakah ia sekarang mengidap penyakit jantung. Matanya menangkap refleksi dirinya di sebelah kiri,tanan kirinya berdempetan dengan refeleksi dirinya. Tangan kirinya terasa semakin mendingin,terdengar sedikit suara retak di dalam sana. Ya,dia dia yang ada dibalik cermin itu menangis dalam diam air matanya terus membanjiri kedua pipinya. Tangan kanan itu terlihat sedikit gemetar menggoyangkan kaki kiri yang menjadi tumpuannya,segurat ekspresi orang kesakitan nampak jelas disana. Dari jari jemarinya mulai mengucur cairan kental berwarna merah. Apa dia berdarah? tapi kenapa? Apa ada orang yang melukai orang itu,pikirnya.’ Iya, ada orang yang melukaiku’bisik sebuah suara menggema diruangan pengap itu membuat ia semakin tercekak. Siapa? Siapa yng melakukan itu? Sahutnya bergetar dalam hati. Sedetik kemudian muncul sebuah jawaban yang terus terngiyang-ngiyang di kepalanya ’kau lah penyebab kau menderita,iya! kau! Kau! Kau membuat aku terluka! ‘ Pekik suara seseorang yang entah dimana sekarang.  Gambaran sosok itu mulai menghilang berganti dengan warna kelabu yang meliputi dimensi tampat ia berdiri,kakinya seperti melayang. Sebuah adegan yang sangat ia kenal terpampang tepat didepan batang hidungnya. Semakin lama semakin jelas saja seperti nyata dan jelas sekali ketika wajahnya bersimbah darah terkapar disana. Tangan kiri sosok itu terlurur meminta bantuan padanya dan  lirih terdengar seperti terucap kata tolong dari bibir mungilnya membuat hati ini semakin sakit melihatnya.
          “aaaaaaaaa!!!!! Tidak! Hentikan- hentikan....!!” jeritnya dengan lantang seraya terbangun dari tidurnya. Seseorang yang berada disebelah kiri terbangun karnanya,ia menggosok matanya yang masih terasa lelah. “apa kau bermimpi buruk lagi,ery?” tanya ary setengah mengantuk,dilihatnya sodaranya sedang bergetar ketakutan. Kedua tangannya menutupi telinga,matanya terlihat terbelalak kaget,digigitnya bibir bawah itu agar tidak terisak. Namun,matanya tak bisa berbohong,ia terpukul karna kejadian beberapa tahun lalu. Tangan kekar itu mulai merengkuh dan menarik tubuh gemetar itu dalam dekapannya,di dekatkannya kepala itu kedadanya dan mulai diusap lembut kepala berambut coklat itu. Senandung merdu terlantun menenangkan ditelinga ery,suara merdu saudaranya ini mampu memecahkan kesunyian dan rasa takut yang ia alami. Suara yang menenangkan seperti suara merdu ibunda mereka yang kini telah jauh disana. Tubuhnya mulai tenang meski masih menyisakan sebuah isakan dan air mata, “ jadi,sudah baikan kah?” tanya seseorang yang mulai melepaskan dekpannya hanya dibalas anggukan oleh ery. “trimakasih ary.aku akan membasuh muka dulu” sahutnya beberapa saat sembari bengun menuju kamar mandi,”hati-hati .lantainya licin” suara itu hanya dibalas dengan anggukan pelan.
          Ditengah malam ia hanya bisa mendesar akan kondisi yang dialami oleh saudara kembarnya,kematian saudara ketiga mereka membuat parit luka yang sangat dalam di hati ery. Sekali lagi helaan panjang meluncur dari bibirnya dan berusaha untuk merebahkan dirinya sekali lagi untuk kembali ke alam mimpi dengan susah payah. Beberapa menit kemudia saudaranya sudah kembali dan beringsut dibalik punggungnya “jadi,apa yang kau impikan?” tanya pria bertubuh semampai ini “hanya potongan kejadian dihari itu” ucap ery memunggungi saudaranya karena ia mendengar pertanyaan yang mengorek lukanya. “tapi itu sudah sangat lama,kau harus melupakannya” ucap ary dengan melingkarkan tangannya kepinggang itu,memendamkan wajahnya kepunggung yang sedikit meringkuk karenanya. Diciumnya dalam aroma yang sangat ia kenal selama ini “ini bukan salahmu,jadi lupakan ya?” bujuknya sekali lagi agar saudaranya mau melupakan kejadian yang merenggut saudara ketiga mereka. “ta-ta-tapi... a-aku benar-benar me-menyesal...” ucapnya terbata-bata karena kembali terisak “sudah-sudah,jangan menangis lagi.maaf-maaf telah mengatakan hal-hal yang menyakitkan” ucap ary kembali menenangkan saudara kembarnya. Sekitar tiga puluh menit berlalu tetapi tetap dalam isakan yang bergema didalam kamar itu “kau tidak akan meninggalkan aku kan? Kau tidak akan melepaskan aku kan?” tanya ery meringkuk dalam dekapan saudaranya yang memang ukuran tubuhnya lebih tinggi dari ery “tidak akan,aku tidak akan meninggalkanmu lagi” ucap ary dengan semakin memeluk erat saudaranya. “trima kasih,ary.aku bahagia mendengarnya” ucap ery kemudia terlelap beberapa menit kemudian.
          Kejadia yang tidak akan pernah ia lupakan seumur hidup,kejadian yang sebenarnya juga menghantui dirinya tetapi ia tetap memilih diam dalam tangisnya. Kejadian itu bermula ketika ia meninggalkan kedua saudaranya bersama ayah angkat mereka yang baru. Mereka anak yatim piatu yang tidak pernah mengenal orang tua kandung mereka,mereka hidup dengan perpindah-pindah rumah orang tua angkat. Kali ini mereka menempati rumah yang lumayan besar tetapi ayah angkatnya kali ini tidak memiliki istri dan semua pekerja yang ada hanya laki-laki berusia remaja,ini sudah menjadi suatu keganjilan tersendiri baginya tetapi tidak disadari oleh saudara-saudara yang lain. Mereka terlihat sangat berbinar ketika menyantap masakan yang tersuguh malam itu jadilah ia tidak mau merusak suasana bahagia yang tercipta dengan argumen dirinya. Ayah angkatnya terlihat sangat baik dan sangat menyayangi kedua saudara kembarnya ini bukan masalah baginya dan bukan suatu hal yang harus ia iri hatikan. Tetapi semua berubah menjadi petaka ketika ayah angkatnya yang hanyalah serigala berbulu domba terkuak,ary tak habis fikir karenanya ia tidak sempat menyelamatkan kedua saudara kembarnya. Ia harus berlari ketika itu dengan satu tangan menggandeng saudara yang entah siapa yang ia berhasil selamatkan dan satu tangannya menutupi hidung agar udara panas juga kotor tidak tersedot kedalam saluran pernafasannya. Dalam kejadian kebakaran diruang koleksi  cermin unik  rumah itu benar-benar sangat ia sesali karena tak sanggup menyelamatkan saudara ketiga mereka tetapi ia juga mensyukuri kejadian malang itu karena dengan begitu mereka menemukan siapa sosok ayah angkatnya itu yang sebenarnya hanyalah orang phedofil. Hanya membayangkan saja tubuh adik-adiknya direnggut kesuciannya oleh pria itu membuat ia merasa sangat marah,tetapi apa daya ia hanya bisa menyelamatkan salah satu dari mereka. Dan tidak disangkanya akan menyebabkan kegoncangan jiwa yang akut pada salah satu saudara kembarnya. Semakin ia teringat kejadian mengerikan itu ia selalu mempererat pelukannya membuat ery sesekali protes karena tidak dapat bernafas,tetapi dari lubuk hatinya yang terdalam ia tidak ingin menyerahkan saudara kembar satu-satunya kepada siapapun. Ia takut,ia takut kalau-kalau mereka akan lebih terluka dari sekedar kehilangan saudara kembar jika mereka lengah dan melepaskan hubungan yang sudah sangat erat itu walau hanya sadetik. Tapi ia menyadari bahwa ada kalanya apa yang ia ucapkan hanyalah omong kosong belaka dan ini membuatnya tersenyum geli.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »