Just Nonsense
Disclaimer
by : milda
Rated :
15+
Genre:
pshicology
Warning:
incest,BL
Nafas
tersengal-sengal mengiringi langkah kakinya yang semakin lama semakin
cepat,jantungnya terasa berdegub
abnormal apakah ia sekarang mengidap penyakit jantung. Matanya menangkap
refleksi dirinya di sebelah kiri,tanan kirinya berdempetan dengan refeleksi
dirinya. Tangan kirinya terasa semakin mendingin,terdengar sedikit suara retak
di dalam sana. Ya,dia dia yang ada dibalik cermin itu menangis dalam diam air
matanya terus membanjiri kedua pipinya. Tangan kanan itu terlihat sedikit
gemetar menggoyangkan kaki kiri yang menjadi tumpuannya,segurat ekspresi orang
kesakitan nampak jelas disana. Dari jari jemarinya mulai mengucur cairan kental
berwarna merah. Apa dia berdarah? tapi kenapa? Apa ada orang yang melukai orang
itu,pikirnya.’ Iya, ada orang yang melukaiku’bisik sebuah suara menggema
diruangan pengap itu membuat ia semakin tercekak. Siapa? Siapa yng melakukan
itu? Sahutnya bergetar dalam hati. Sedetik kemudian muncul sebuah jawaban yang
terus terngiyang-ngiyang di kepalanya ’kau lah penyebab kau menderita,iya! kau!
Kau! Kau membuat aku terluka! ‘ Pekik suara seseorang yang entah dimana
sekarang. Gambaran sosok itu mulai
menghilang berganti dengan warna kelabu yang meliputi dimensi tampat ia
berdiri,kakinya seperti melayang. Sebuah adegan yang sangat ia kenal terpampang
tepat didepan batang hidungnya. Semakin lama semakin jelas saja seperti nyata
dan jelas sekali ketika wajahnya bersimbah darah terkapar disana. Tangan kiri
sosok itu terlurur meminta bantuan padanya dan lirih terdengar seperti terucap kata tolong dari
bibir mungilnya membuat hati ini semakin sakit melihatnya.
“aaaaaaaaa!!!!!
Tidak! Hentikan- hentikan....!!” jeritnya dengan lantang seraya terbangun dari
tidurnya. Seseorang yang berada disebelah kiri terbangun karnanya,ia menggosok
matanya yang masih terasa lelah. “apa kau bermimpi buruk lagi,ery?” tanya ary
setengah mengantuk,dilihatnya sodaranya sedang bergetar ketakutan. Kedua
tangannya menutupi telinga,matanya terlihat terbelalak kaget,digigitnya bibir
bawah itu agar tidak terisak. Namun,matanya tak bisa berbohong,ia terpukul
karna kejadian beberapa tahun lalu. Tangan kekar itu mulai merengkuh dan
menarik tubuh gemetar itu dalam dekapannya,di dekatkannya kepala itu kedadanya
dan mulai diusap lembut kepala berambut coklat itu. Senandung merdu terlantun
menenangkan ditelinga ery,suara merdu saudaranya ini mampu memecahkan kesunyian
dan rasa takut yang ia alami. Suara yang menenangkan seperti suara merdu ibunda
mereka yang kini telah jauh disana. Tubuhnya mulai tenang meski masih
menyisakan sebuah isakan dan air mata, “ jadi,sudah baikan kah?” tanya
seseorang yang mulai melepaskan dekpannya hanya dibalas anggukan oleh ery.
“trimakasih ary.aku akan membasuh muka dulu” sahutnya beberapa saat sembari
bengun menuju kamar mandi,”hati-hati .lantainya licin” suara itu hanya dibalas
dengan anggukan pelan.
Ditengah
malam ia hanya bisa mendesar akan kondisi yang dialami oleh saudara
kembarnya,kematian saudara ketiga mereka membuat parit luka yang sangat dalam
di hati ery. Sekali lagi helaan panjang meluncur dari bibirnya dan berusaha
untuk merebahkan dirinya sekali lagi untuk kembali ke alam mimpi dengan susah
payah. Beberapa menit kemudia saudaranya sudah kembali dan beringsut dibalik
punggungnya “jadi,apa yang kau impikan?” tanya pria bertubuh semampai ini
“hanya potongan kejadian dihari itu” ucap ery memunggungi saudaranya karena ia
mendengar pertanyaan yang mengorek lukanya. “tapi itu sudah sangat lama,kau harus
melupakannya” ucap ary dengan melingkarkan tangannya kepinggang itu,memendamkan
wajahnya kepunggung yang sedikit meringkuk karenanya. Diciumnya dalam aroma
yang sangat ia kenal selama ini “ini bukan salahmu,jadi lupakan ya?” bujuknya
sekali lagi agar saudaranya mau melupakan kejadian yang merenggut saudara
ketiga mereka. “ta-ta-tapi... a-aku benar-benar me-menyesal...” ucapnya
terbata-bata karena kembali terisak “sudah-sudah,jangan menangis lagi.maaf-maaf
telah mengatakan hal-hal yang menyakitkan” ucap ary kembali menenangkan saudara
kembarnya. Sekitar tiga puluh menit berlalu tetapi tetap dalam isakan yang
bergema didalam kamar itu “kau tidak akan meninggalkan aku kan? Kau tidak akan
melepaskan aku kan?” tanya ery meringkuk dalam dekapan saudaranya yang memang
ukuran tubuhnya lebih tinggi dari ery “tidak akan,aku tidak akan meninggalkanmu
lagi” ucap ary dengan semakin memeluk erat saudaranya. “trima kasih,ary.aku
bahagia mendengarnya” ucap ery kemudia terlelap beberapa menit kemudian.
Kejadia
yang tidak akan pernah ia lupakan seumur hidup,kejadian yang sebenarnya juga
menghantui dirinya tetapi ia tetap memilih diam dalam tangisnya. Kejadian itu
bermula ketika ia meninggalkan kedua saudaranya bersama ayah angkat mereka yang
baru. Mereka anak yatim piatu yang tidak pernah mengenal orang tua kandung
mereka,mereka hidup dengan perpindah-pindah rumah orang tua angkat. Kali ini
mereka menempati rumah yang lumayan besar tetapi ayah angkatnya kali ini tidak
memiliki istri dan semua pekerja yang ada hanya laki-laki berusia remaja,ini
sudah menjadi suatu keganjilan tersendiri baginya tetapi tidak disadari oleh
saudara-saudara yang lain. Mereka terlihat sangat berbinar ketika menyantap
masakan yang tersuguh malam itu jadilah ia tidak mau merusak suasana bahagia yang
tercipta dengan argumen dirinya. Ayah angkatnya terlihat sangat baik dan sangat
menyayangi kedua saudara kembarnya ini bukan masalah baginya dan bukan suatu
hal yang harus ia iri hatikan. Tetapi semua berubah menjadi petaka ketika ayah
angkatnya yang hanyalah serigala berbulu domba terkuak,ary tak habis fikir
karenanya ia tidak sempat menyelamatkan kedua saudara kembarnya. Ia harus
berlari ketika itu dengan satu tangan menggandeng saudara yang entah siapa yang
ia berhasil selamatkan dan satu tangannya menutupi hidung agar udara panas juga
kotor tidak tersedot kedalam saluran pernafasannya. Dalam kejadian kebakaran
diruang koleksi cermin unik rumah itu benar-benar sangat ia sesali karena
tak sanggup menyelamatkan saudara ketiga mereka tetapi ia juga mensyukuri
kejadian malang itu karena dengan begitu mereka menemukan siapa sosok ayah
angkatnya itu yang sebenarnya hanyalah orang phedofil. Hanya membayangkan saja
tubuh adik-adiknya direnggut kesuciannya oleh pria itu membuat ia merasa sangat
marah,tetapi apa daya ia hanya bisa menyelamatkan salah satu dari mereka. Dan
tidak disangkanya akan menyebabkan kegoncangan jiwa yang akut pada salah satu
saudara kembarnya. Semakin ia teringat kejadian mengerikan itu ia selalu
mempererat pelukannya membuat ery sesekali protes karena tidak dapat
bernafas,tetapi dari lubuk hatinya yang terdalam ia tidak ingin menyerahkan
saudara kembar satu-satunya kepada siapapun. Ia takut,ia takut kalau-kalau
mereka akan lebih terluka dari sekedar kehilangan saudara kembar jika mereka lengah
dan melepaskan hubungan yang sudah sangat erat itu walau hanya sadetik. Tapi ia
menyadari bahwa ada kalanya apa yang ia ucapkan hanyalah omong kosong belaka
dan ini membuatnya tersenyum geli.
EmoticonEmoticon